RAMADAN sudah di ambang pintu. Dalam beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan yang penuh berkah itu dengan menjalankan puasa serta serangkaian ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah seperti tadarus, menjalankan salat tarawih, dan sebagainya. Karena itu, masjid-masjid lantas sesak jamaah, ayat-ayat Al-Qur’an bergema di udara, dakwah keagamaan juga marak di mana-mana.
Kita pun maklum dengan semua itu, sebab Ramadan adalah bulan paling istimewa di mana Allah menurunkan rahmat-Nya. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Ubadah bin ash-Shamit: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. (H.R. ath-Thabrani)
Jelaslah, Ramadan menyediakan kesempatan bagi kita untuk berlomba-lomba dalam amal kebaikan. Tak tanggung-tanggung, di bulan Ramadan Allah membuka lebar-lebar pintu surga sebagai “hadiah” dari amal kebaikan itu. Tentang hal ini, Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah saw. memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'. (H.R. Ahmad dan an-Nasa'i)
Tetapi terkadang totalitas kesadaran kita belum terbentuk saat memasuki bulan Ramadan. Aktifitas di bulan ini tak ubahnya semacam rutinitas yang terus berlangsung dari tahun ke tahun. Kesadaran menjalankan perintah Allah, terutama berpuasa, tidak dilandasi keimanan yang murni, namun cenderung karena ‘keterpaksaan’ dan solidaritas sesama umat Islam. Hingga sedemikian rupa, ibadah puasa kita akhirnya tidak bernilai sama sekali di hadapan Allah. Puasa kita tidak menghasilkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga.
Memang kedatangan Ramadan tahun ini diiringi oleh realitas sosial yang memprihatinkan. Dari berbagai media massa, kita disodori potret penderitaan masyarakat di sejumlah daerah yang terhimpit beban kemiskinan. Di daerah kita sendiri setelah dihantam gempa tektonik 27 Mei silam, kehidupan masyarakat belum benar-benar pulih. Bahkan masih ada sebagian mereka yang roda kehidupannya macet total.
Dengan mempertimbangkan realias sosial semacam ini, Ramadan sudah sepatutnya kita jadikan momentum untuk mengevaluasi diri. Ramadan harus difungsikan sebagai media untuk meredam gejolak emosi dan individualisme. Semestinya kita bisa berempati. Dengan demikian, kesadaran kita sebagai makhluk sosial akan terasah.
Seorang ilmuwan Islam terkemuka, Yusuf Qardhawi, dalam kitabnya al-Ibadah fi al-Islam mengungkapkan lima rahasia puasa yang perlu kita camkan agar kita bisa merasakan nikmatnya Ramadan. Pertama, menguatkan jiwa. Puasa melatih kita untuk mengendalikan egoisme hawa nafsu. Sebab dominasi hawa nafsu sering kali membutakan mata hati dan mendorong timbulnya perilaku zalim. Pengendalian hawa nafsu inilah makna implisit dari ungkapan ‘setan-setan diikat’ di bulan Ramadan.
Kedua, mendidik kemauan. Puasa mendidik kita untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan. Puasa yang baik akan membuat kita bersabar dan terus mempertahankan keinginan yang baik. Sebab dalam salah satu hadisnya, Rasulullah mengungkapkan bahwa puasa itu adalah setengah dari kesabaran.
Ketiga, menyehatkan badan. Meski tidak eksplisit diungkapkan Rasulullah, tapi telah diamini hampir semua ahli medis. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk.
Keempat, mengenal nilai kenikmatan. Sebenarnya nikmat Allah telah melimpah ruah diberikan kepada kita. Namun dengan berpuasa, nilai kenikmatan itu semakin terasa. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami. Pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Di sinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah.
Dan, kelima, mengingat dan merasakan penderitaan orang lain. Di tengah realitas sosial yang amat memprihatinkan saat ini, puasa akan langsung mengantarkan kita pada perasaan senasib terhadap penderitaan orang lain. Sehingga berawal dari puasa, kesadaran kita terketuk. Dan sepantasnya kita lebih memperbanyak amal sedekah untuk meringankan beban penderitaan mereka.
Mari kita sambut kedatangan Ramadan dengan penuh rasa gembira. Kita tunjukkan kegembiraan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadan sebagai momentum untuk mendidik diri, keluarga dan masyarakat ke arah pengokohan takwa kepada Allah swt. Dengan begitu, kita memang layak, sebagaimana hadis riwayat Ubadah di atas, dibangga-banggakan Allah kepada para malaikat. Selamat berpuasa! [sag]








Posting Komentar