Mengingat Mati
Oleh KH. Zainul Arifin Arief
ALKISAH, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada suatu ketika mengumpulkan sejumlah ulama. Atas permintaannya, mereka disuruh menuturkan kisah tentang mati dan akan segera tibanya hari kiamat. Syahdan, setelah mendengar penuturan mereka, Khalifah Umar menangis sedu-sedan. Hatinya terenyuh dan airmatanya berlinang. Seolah-olah ia melihat iring-iringan jenazah melintas di depannya. Dan anehnya, ia melihat jenazah itu adalah dirinya sendiri. (Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulb, hlm. 451).
Cerita khalifah Umar ini menyadarkan kita akan pentingnya mengingat mati. Kematian merupakan hal yang niscaya bagi setiap makhluk yang hidup di dunia ini (Q.S. Ali Imran (3): 185). Memang tidak ada yang abadi bagi kehidupan di muka bumi. Yang abadi hanyalah Dzat Allah Azza wa Jalla. Namun apakah dengan demikian kematian menjadi alasan memudarnya semangat mengarungi kehidupan ini? Tentu saja tidak. Dengan mengingat mati kita harus menjadikannya sebagai ajang instropeksi.
Meyakini mati sebagai salah satu rahasia kehidupan berhubungan dengan keyakinan kita akan alam gaib dan kehidupan lain setelah mati. Karenanya kita dituntut untuk terus memikirkan apa bekal hidup setelah mati nanti. Sehingga di satu sisi, kita tergerak untuk bekerja keras seakan-akan kita akan hidup seterusnya. Di sisi lain, nilai ibadah kita mencapai tingkat kekhusukan tertentu seolah-olah kita akan mati esok hari.
Orang-orang yang sadar akan kefanaan dirinya dengan mengingat mati dengan sendirinya akan, pertama, menyegerakan tobat. Mati menjadi inspirasi tersendiri baginya untuk tidak menunda tobat. Kesalahan yang pernah dilakukan menjadi pemicu untuk mengevaluasi diri jangan sampai melakukan kesalahan yang kesekian kali. Sehingga dengan demikian, ia akan banyak melakukan kebaikan demi menebus kesalahan di masa silam.
Pertobatan ini mampu menghadirkan, kedua, ketenangan hati. Hati yang tenang menjauhkan perasaan tidak senang. Jika hati tidak tenang, hidup akan terasa gersang. Akan muncul banyak tuntutan yang tidak berdasar pada kemampuan diri sendiri. Hati yang tidak tenang menghilangkan perasaan ridla pada Tuhan.
Dengan ketenangan hati kita senantiasa bersyukur atas segala limpahan karunia Tuhan. Apapun yang berlaku di dunia ini adalah nikmat yang wajib disyukuri. Jika tertimpa musibah, musibah itu sendiri adalah ujian keimanan terhadap Tuhan. Sebab tidak seorangpun yang menanggung musibah kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
Maka, ketiga, frekuensi ibadah dengan sendirinya akan meningkat. Bahwa dengan ibadah berarti terbina komunikasi dialogis antara Tuhan dan hamba-Nya. Di dalam ibadahlah kita menghamparkan segala resah dan keluh kesah, berikut ketundukan kepada Yang Maha Perkasa.
Sekali lagi, kematian justru harus menjadi semangat untuk membikin hidup lebih bermakna. Hidup cuma sekali, setelah itu bakal mati. Kita pasti merugi jika mengisi hidup dengan sesuatu yang tidak berarti. Sebab mati adalah sesuatu yang pasti kita tak pernah tahu kapan dan di mana kematian akan mendatangi kita (Q.S. Luqman (31): 34). Cuma yang penting kita lakukan sekarang adalah memperbanyak mengingat mati sekaligus karenanya menjadi pijakan mengisi hari-hari dengan perbuatan berarti sebagai bekal hidup sesudah mati. Wallahu A’lam. [sag]








+ comments + 1 comments
Subhanallah, mudah2an akhir hayat kita bisa husnul khotimah, Aamiiin allahumma aamiiin
Posting Komentar