Oleh KH. Zainul Arifin Arief
DALAM sebuah hadis, Nabi Muhammad saw bersabda, “khoirunnas anfa’uhum linnas”. Sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat terhadap sesamanya. Ternyata, benarlah bahwa derajat kemuliaan manusia dilihat dari sejauh mana diri punya nilai manfaat bagi orang lain. Bisa dengan mentasarufkan harta untuk kepentingan sosial. Bisa dengan sikap senang membantu orang lain. Dan sebagainya.
Semangat moral hadis ini pula yang turut mendasari keinginan orangtua saat memondokkan anaknya di pesantren—terutama pesantren Roudlotun Nasyi’in. Harapannya begitu mulia, yaitu agar anak-anak yang mendalami ilmu agama di pesantren kelak bisa membanggakan saat berkiprah di tengah masyarakat. Betapa bahagia orangtua yang memiliki anak demikian. Bila pendidikan anak tidak diarahkan secara positif sedari awal, maka dikhawatirkan anak akan tumbuh dengan kepribadian timpang di tengah-tengah deru globalisasi teknologi informasi ini.
Pada intinya, harapan orangtua tersebut bisa dijelaskan seturut dengan kandungan pesan yang disabdakan Nabi Muhammad saw dalam salah satu hadisnya, “kun imaman mutho’an aw ma’muman muthi’an wala takun tsalitsan”. Bila dijabarkan, makna hadis tersebut terkait dengan konsep “sebaik-baik manusia” adalah sebagai berikut.
Pertama, pemimpin yang dipatuhi. Menjadi pemimpin itu penting. Namun jauh lebih penting lagi menjadi pemimpin yang dipatuhi. Sebab, tak jarang muncul fenomena pemimpin dipatuhi hanya pada saat ia tampil ada secara fisik, sementara jika ia tak ada lagi kerap dikhianati. Pemimpin bakal senantiasa dipatuhi manakala semua kebijakannya terhadap yang dipimpin didasarkan atas kemaslahatan. Tasharruful imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bil mashlahah.
Misalnya, seorang kepala desa—beberapa alumnus ponpes Ronas ada yang menjadi kepala desa. Semua kebijakan kepala desa mesti diwujudkan demi kemakmuran warga. Apalagi saat ini desa mendapatkan “dana desa” yang semestinya difungsikan sepenuhnya untuk membangun desa, baik dalam pengertian pembangunan fisik (semisal fasilitas sosial) maupun non-fisik (seperti pengembangan pendidikan warga dalam pengertian seluas-luasnya).
Atau setidak-tidaknya menjadi pemimpin rumah tangga. Seorang suami yang dipatuhi akan menjadi panutan istrinya. Seorang ayah yang dipatuhi bakal menjadi cermin bagi perkembangan kepribadian anak-anaknya.
Kedua, individu yang taat. Bila tak bisa menjadi pemimpin yang dipatuhi, maka seyogyanya menjadi individu yang taat terhadap pimpinan. Namun demikian, kepatuhan terhadap pimpinan harus dalam batas-batas kebajikan dan kemaslahatan bagi sesama. Kunci utama adalah kemauan. Kemauan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Jika kita memiliki lebih harta, maka berikan sebagian harta kita kepada orang yang membutuhkan. Jika kita memiliki ilmu yang cukup, maka kita bagikan ilmu kita kepada orang lain agar bermanfaat.
Ketiga, pembangkang. Ini yang kudu dihindari. Sebab, tidak bisa menjadi pemimpin yang dipatuhi, tidak juga menjadi warga yang patuh, malah menjadi pembangkang. Pembangkang ini pengertiannya beragam, tetapi hampir semua mengacu pada pengertian negatif. Maka jelas, pembangkang itu jauh dari konsepsi “sebaik-baik manusia”. Alumni pesantren sudah barang tentu tidak boleh masuk dalam kategori pembangkang. Sebab di samping merugikan diri sendiri, setidaknya mengecewakan keluarga.
Nah, benang merah dari kategorisasi konsepsi “sebaik-baik manusia” tersebut adalah janganlah kita memberi manfaat kepada orang lain tapi tidak memberikan manfaat bagi diri kita sendiri. Bukan maksud berharap dari orang yang kita berikan manfaat. Tapi maksudnya di sini, kita tak boleh riya'. Kita harus ikhlas memberikan manfaat kepada orang lain agar juga bermanfaat bagi diri kita sendiri. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan, hanya amal yang diterima Allah agar bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Bukan untuk dibilang pribadi yang bermanfaat. Karena sifat riya' itu samar maka kita harus hati-hati. [sag]
DALAM sebuah hadis, Nabi Muhammad saw bersabda, “khoirunnas anfa’uhum linnas”. Sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat terhadap sesamanya. Ternyata, benarlah bahwa derajat kemuliaan manusia dilihat dari sejauh mana diri punya nilai manfaat bagi orang lain. Bisa dengan mentasarufkan harta untuk kepentingan sosial. Bisa dengan sikap senang membantu orang lain. Dan sebagainya.
Semangat moral hadis ini pula yang turut mendasari keinginan orangtua saat memondokkan anaknya di pesantren—terutama pesantren Roudlotun Nasyi’in. Harapannya begitu mulia, yaitu agar anak-anak yang mendalami ilmu agama di pesantren kelak bisa membanggakan saat berkiprah di tengah masyarakat. Betapa bahagia orangtua yang memiliki anak demikian. Bila pendidikan anak tidak diarahkan secara positif sedari awal, maka dikhawatirkan anak akan tumbuh dengan kepribadian timpang di tengah-tengah deru globalisasi teknologi informasi ini.
Pada intinya, harapan orangtua tersebut bisa dijelaskan seturut dengan kandungan pesan yang disabdakan Nabi Muhammad saw dalam salah satu hadisnya, “kun imaman mutho’an aw ma’muman muthi’an wala takun tsalitsan”. Bila dijabarkan, makna hadis tersebut terkait dengan konsep “sebaik-baik manusia” adalah sebagai berikut.
Pertama, pemimpin yang dipatuhi. Menjadi pemimpin itu penting. Namun jauh lebih penting lagi menjadi pemimpin yang dipatuhi. Sebab, tak jarang muncul fenomena pemimpin dipatuhi hanya pada saat ia tampil ada secara fisik, sementara jika ia tak ada lagi kerap dikhianati. Pemimpin bakal senantiasa dipatuhi manakala semua kebijakannya terhadap yang dipimpin didasarkan atas kemaslahatan. Tasharruful imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bil mashlahah.
Misalnya, seorang kepala desa—beberapa alumnus ponpes Ronas ada yang menjadi kepala desa. Semua kebijakan kepala desa mesti diwujudkan demi kemakmuran warga. Apalagi saat ini desa mendapatkan “dana desa” yang semestinya difungsikan sepenuhnya untuk membangun desa, baik dalam pengertian pembangunan fisik (semisal fasilitas sosial) maupun non-fisik (seperti pengembangan pendidikan warga dalam pengertian seluas-luasnya).
Atau setidak-tidaknya menjadi pemimpin rumah tangga. Seorang suami yang dipatuhi akan menjadi panutan istrinya. Seorang ayah yang dipatuhi bakal menjadi cermin bagi perkembangan kepribadian anak-anaknya.
Kedua, individu yang taat. Bila tak bisa menjadi pemimpin yang dipatuhi, maka seyogyanya menjadi individu yang taat terhadap pimpinan. Namun demikian, kepatuhan terhadap pimpinan harus dalam batas-batas kebajikan dan kemaslahatan bagi sesama. Kunci utama adalah kemauan. Kemauan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Jika kita memiliki lebih harta, maka berikan sebagian harta kita kepada orang yang membutuhkan. Jika kita memiliki ilmu yang cukup, maka kita bagikan ilmu kita kepada orang lain agar bermanfaat.
Ketiga, pembangkang. Ini yang kudu dihindari. Sebab, tidak bisa menjadi pemimpin yang dipatuhi, tidak juga menjadi warga yang patuh, malah menjadi pembangkang. Pembangkang ini pengertiannya beragam, tetapi hampir semua mengacu pada pengertian negatif. Maka jelas, pembangkang itu jauh dari konsepsi “sebaik-baik manusia”. Alumni pesantren sudah barang tentu tidak boleh masuk dalam kategori pembangkang. Sebab di samping merugikan diri sendiri, setidaknya mengecewakan keluarga.
Nah, benang merah dari kategorisasi konsepsi “sebaik-baik manusia” tersebut adalah janganlah kita memberi manfaat kepada orang lain tapi tidak memberikan manfaat bagi diri kita sendiri. Bukan maksud berharap dari orang yang kita berikan manfaat. Tapi maksudnya di sini, kita tak boleh riya'. Kita harus ikhlas memberikan manfaat kepada orang lain agar juga bermanfaat bagi diri kita sendiri. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan, hanya amal yang diterima Allah agar bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Bukan untuk dibilang pribadi yang bermanfaat. Karena sifat riya' itu samar maka kita harus hati-hati. [sag]








Posting Komentar