
Hikmah Nuzulul Qur’an
Oleh KH. Zainul Arifin Arief
ALHAMDULILLAH, puasa kita sudah menginjak pada fase sepuluh hari kedua, fase di mana oleh Nabi ditegaskan merupakan fase pengampunan setelah sepuluh hari pertama sebagai fase kerahmatan dan menjelang fase sepuluh hari ketiga nanti sebagai fase pembebasan dari api neraka. Nyaris tak terasa, bulan penuh berkah ini sepertinya cepat sekali berjalan. Beruntunglah kita bila setiap saat yang dilewatkan diisi dengan ritus-ritus ibadah untuk lebih mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah.
Pada fase sepuluh hari kedua ini terdapat peristiwa monumental yang menempati posisi penting dalam perjalanan sejarah dakwah Islam, yakni turunnya Al-Qur'an yang lazim dikenal dengan nuzulul Qur’an. Menurut Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy dalam Sirah Nabawi, sedikitnya muncul tiga pendapat tentang hal ini. Ada yang mengatakan bahwa nuzulul Qur’an pada bulan Rabiul Awwal, Rajab, dan Ramadan.
Dari tiga pendapat tersebut, pendapat ketiga merupakan pendapat yang diyakini kesahihannya oleh mayoritas ulama. Sebab dalam Al-Qur'an (Q.S. al-Baqarah: 185) ditegaskan bahwa di dalam bulan Ramadan-lah (permulaan) Al-Qur'an diturunkan. Juga dalam Q.S. al-Qadr: 1 dinyatakan dengan gamblang bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam kemuliaan. Malam kemuliaan yang tak lain adalah lailatul qadar diyakini hanya terdapat pada bulan Ramadan. Hal ini juga diperkuat oleh firman Allah: Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan (Q.S. ad-Dukhan: 3).
Namun demikian, sedikit di antara kita yang sanggup menyongsong nuzulul Qur’an dengan kesiapan spiritual yang matang sehingga transformasi moral dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh bisa terwujud sebagaimana mestinya. Setidaknya, hal ini dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, karena cara dan semangat menyongsong cahaya (nur) Al-Qur'an yang turun, tidak dengan spirit inklusif yang bisa membumikan Al-Qur'an dalam realitas empirik, bahkan Al-Qur'an kerap difungsikan sebagai azimat, jarang disentuh kecuali sebagai etalase rak buku semata.
Kedua, karena Al-Qur'an telah diacuhkan nilai-nilainya, sehingga banyak di antara kita yang hanya memahaminya secara tekstual belaka, lalu dijadikan sebagai legitimasi pandangan-pandangan ideologisnya. Al-Qur'an terasa kering maknanya dalam kehidupan, hampir-hampir tidak muncul fenomena teosofianya dalam perilaku keseharian.
Nuzulul Qur’an semestinya kita jadikan momentum untuk merefleksikan kembali sejauh mana proses artikulatif yang kita lakukan dalam kerangka pembacaan kontemporer terhadap Al-Qur'an. Kesadaran bahwa turunnya Al-Qur'an sebagai kekuatan revolusioner pengubah peradaban dunia harus diteguhkan kembali. Dengan demikian, diharapkan Al-Qur'an pun mampu tampil di garda depan sebagai ujung tombak untuk mengubah peradaban kita di masa kekinian sebagai bagian dari agenda pemberdayaan umat.
Al-Qur'an turun pertama kali saat Muhammad ber-tahanuts, menyepi diri di Gua Hira. Ia melakukan pengosongan diri dan alam seluruhnya, hingga menembus batas ruang-waktu. Maka berdengunglah untaian kalimat yang menjadi awal dari segalanya, Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (Q.S. al-'Alaq).
Tidak lama setelah itu, yang dirasakan sangat lama oleh Muhammad, turun ayat kedua yang secara tekstual tidak memiliki hubungan yang jelas. Akan tetapi, bila dilihat dalam konteksnya, akan ditemukan hubungan yang sangat menarik. Hai orang yang beselimut, bangunlah (Q.S. al-Muddatsir).
Terdapat perintah yang sangat mendasar dari dua ayat yang berbeda akan tetapi turun secara beriringan ini, yaitu perintah untuk membaca dan perintah untuk segera bangun. Perintah untuk membaca, yaitu diawali dengan pembacaan atas proses kejadian manusia, tentang manusia.
Tiga alasan Allah memerintah manusia untuk membaca, [1] karena Ia adalah Zat yang Maha Pencipta dan Pemurah (al-akram); [2] Ia telah mengajarkan manusia melalui perantaraan pena (qalam); dan [3] Ia mengajarkan manusia apa-apa yang tidak manusia ketahui (Q.S. al-‘Alaq ayat 1-5). Tak ada pembacaan tanpa qalam dan tak ada qalam tanpa pembacaan terhadap proses awal kejadian manusia.
Membaca di sini bukanlah sebatas diartikan secara leksikal. Lebih dari itu, konsep membaca mengandung seruan yang integral dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Namun yang pasti konsep membaca meniscayakan potensi akal (rasionalitas). Sehingga poin terpenting di sini adalah progresifitas nalar dan rasionalitas manusia dalam memahami kehidupannya.
Dengan diturunkannya Al-Qur’an, Allah memberikan petunjuk kepada kita tentang kandungan rahasia alam kehidupan. Sedemikian jauh, Al-Qur’an berisikan garis besar pemahaman akan hakikat kemanusiaan dan alam, apabila kita sanggup menggunakan akal (rasio) dan tidak hanya menggunakan hati nurani yang digunakan untuk menyatakan keyakinannya terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Penggunaan akal atau rasio ini pada dasarnya adalah untuk memperteguh hati nurani (fitrah) kita dalam meyakini kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an bahwa tidaklah diciptakan segala sesuatu itu sia-sia.
Dengan semangat nuzulul Qur’an, sudah waktunya kita bangun, menata kembali kehidupan kita menjadi lebih baik. Tentu saja, agar kita termasuk golongan, sebagaimana yang disabdakan Nabi, yang beruntung manakala hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Semoga. [sag]







Posting Komentar