Selamat Datang di Portal Pondok Pesantren Roudlotun Nasyiin

Tentang Welas Asih


Maka, suatu hari Imam Ali berjalan di salah satu gang di Kota Kufah, Irak. Ketika itu mata Imam Ali tertuju pada seorang lelaki yang sedang mengemis. Dia sedih melihat kejadian itu, lalu berkata pada orang-orang di tempat tersebut: “Apa yang tengah aku saksikan ini?”

Salah seorang warga berkata: “Ia seorang Kristen yang sudah tua hingga tidak mampu bekerja lagi. Ia juga tidak memiliki harta untuk menjamin keluarganya. Maka dengan mengemis itu dia memenuhi kebutuhan hidupnya”

Mendengar jawaban itu Imam Ali sedih dan berujar: “Ketika ia muda kalian pekerjakan dia, tapi setelah tua kalian tinggalkan?” Kemudian Imam Ali mengambil sejumlah uang dari baitul mal muslimin untuk mencukupi kehidupan lelaki tua tersebut. DIA YANG BUKAN SAUDARAMU DALAM IMAN, ADALAH SAUDARA DALAM KEMANUSIAAN”.


Sekali lagi, welas asih itu tidak bersekat.*


***

Saat ini mungkin kita sedang menuju situasi untuk mengulang sejarah berabad-abad lalu. Ini adalah zaman makin banyak orang yang lebih suka berbicara menghitung-hitung keburukan orang lain ketimbang menghitung keburukan diri sendiri, zaman ketika orang lebih suka mendengar untuk membantah (bukan mengambil pelajaran), zaman ketika orang lebih suka berbantah-bantahan tentang perkara agama demi memuaskan hasratnya untuk dianggap benar dan paham -- pendeknya zaman ketika orang lebih suka memandang keburukan orang lain ketimbang keburukan diri sendiri, di mana, menurut al-Muhasibi "makin banyak orang saling bersaksi tentang kekafiran dan kesesatan orang lain sampai pada tindakan menghalalkan darah kelompok yang tidak sejalan dengan mereka, padahal sebelumnya mereka bersaudara dalam urusan Allah dan saling bersepakat." Masing-masing golongan di antara mereka berargumentasi dengan ayat-ayat Mutasyabihat dan dengan atsar (Jejak Rasul dan pendapat sahabat) yang sejalan dengan keinginan (hawa nafsu dan prasangka) mereka sehingga mereka tersesat dan menyesatkan banyak orang. Social-media telah mengakselerasi benih-benih perpecahan ini. Setiap kita menyebar gagasan yang memuat "kebencian" dan klaim "engkau kafir dan sesat," maka diam-diam kita menyemai secara perlahan rasa benci yang tak berkesudahan, yang barangkali anak cucu kita yang akan memanennya dalam bentuk pertikaian yang berdarah-darah. Nauzdubillah mindzalik.

Al-Muhasibi, seorang sufi agung yang oleh Syekh al-Qusyairi dikatakan "Sufi yang luar biasa kealiman dan kesalehannya," telah mengingatkan agar orang berhati-hati dengan dirinya sendiri. Al-Muhasibi adalah julukan atasnya karena dia adalah orang yang paling tekun dalam bermuhasabah, mawas diri secara kognitif dan spiritual. Ada "keanehan" dalam metode muhasabah ini. Pada awalnya orang meneliti dan merenungi dirinya sendiri, menyaksikan berbagai keburukan dari yang paling jelas, dan perlahan-lahan melihat begitu banyak tipuan hawa-nafsu dan syahwat yang terselip dalam amal apapun. Maka makin takutlah ia kepada Allah, dan makin merasa sangat butuh pertolongan-Nya. Ia merasa hina, dan tawadhu'nya menjadi makin murni. Pada saat yang sama setiap kali ia berusaha keras bertaubat atas segala dosa yang dilihat dalam dirinya sendiri, ia sekaligus perlahan-lahan melihat rahmat dan kasih-sayang-Nya, yang tiada batas. Jika istiqomah, dalam analisis terakhir, akan tumbuh sifat welas asihnya. Semakin mengenali dirinya, orang akan melihat bahwa dalam kemanusiaan ada rahasia kasih-sayang-Nya. Karena agama sesungguhnya adalah untuk memperbaiki akhlak, yakni agar manusia mengejawantahkan pantulan keagungan, kebaikan dan keindahan yang dipancarkan dari Nama-Nama-Nya. Muhyiddin Ibn 'Arabi pernah mengatakan bahwa "Cinta" adalah salah satu alasan utama dari penciptaan semesta. Wujudnya adalah kasih sayang-Nya yang tanpa batas. Meskipun dalam praktiknya kita sulit menjadi "manusia" sebagaimana yang Dia kehendaki, meski dalam kenyataan dunia ada begitu banyak kengerian, teror dan kekejaman, dan segala daya-daya kegelapan yang senantiasa membayang kehidupan, manusia tidak diperbolehkan putus asa, sebab Allah berfirman: "dan janganlah berputus asa dari Rahmat Allah" -- Mungkin ini karena bani Adam adalah adalah wadah paling baik dari tajalli-Nya, sebab dikatakan "Manusia diciptakan sesuai dengan citra ar-Rahman," dan "Aku adalah rahasia insan, dan insan adalah Rahasia-Ku." Maka agama sesungguhnya mengajarkan agar kita menjadi manusia -- memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia lain adalah sama artinya memanusiakan diri sendiri. Jika demikian, dan ini disadari dan dihayati serta diamalkan dalam laku keseharian, maka perbedaan-perbedaan apapun, entah ras, agama, kedudukan dan sebagainya, yang adalah keniscayaan, sebenarnya tak perlu menjadi soal, bukan halangan untuk menghormati dan saling berkasih-sayang sesama manusia. Seperti dikatakan Habib Luthfi: "Jika sulit mencari alasan untuk menghormati pemeluk agama lain, maka alasan bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT adalah sudah cukup." Welas asih muncul karena diri sudah tak bisa merasa lebih baik ketimbang orang lain, dan karena menyaksikan setiap manusia punya masalah dan setiap orang, entah apapun agama dan keyakinannya, diam-diam punya kerinduan untuk "pulang" ke sisi-Nya dalam keadaan baik. Imam Ali karamallahu wajhah berkata, "Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan."

Syekh al-Muhasibi memberi nasihat yang masih relevan hingga saat ini:

Dan bagaimana engkau bisa menghina seorang Muslim sedangkan engkau tidak mengetahui kesudahan hidupnya dan kesudahan hidupmu sendiri, juga tidak mengetahui rumah yang mana di antara surga dan neraka tempat engkau kembali? Maka jika engkau menasihati dirimu, sesungguhnya dirimu itu lebih berhak untuk mendapatkan penghinaan. Bukankah engkau lebih mengetahui tentang keburukan-keburukan jiwamu dan kekejian jiwamu daripada orang lain? Maka jika engkau mengira bahwa dirimu mampu mengetahui rahasia orang lain seperti halnya rahasiamu, sesungguhnya engkau telah mengaku-aku perkara yang amat besar, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui rahasia orang lain seperti halnya rahasiamu kecuali dengan merendahkan dirimu dan tidak menganggap dirimu suci [dan paling benar].

Sesungguhnya terlarang bagimu untuk menganggap utama dirimu, juga terlarang untuk menganggap dirimu [paling] suci. Sebab, siapa tahu, barangkali engkau pada hari kiamat kelak berada di bawah telapak kaki orang-orang yang telah engkau remehkan, engkau caci maki dan engkau hina-hina di dunia. Renungkanlah apa yang engkau dengar, kemudian mintalah bantuan kepada Allah untuk melenyapkan kesombongan dari hatimu. Semoga Allah melindungi kita dari hal demikian


Sumber
Share this post :

Posting Komentar

SYAIKHUNA

 
Copyright © 2016. Roudlotun Nasyiin - All Rights Reserved
Supported by Mayang Seto Team