Penampilan beliau sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah
neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa
beliau adalah seorang kyai. Di balik kesederhanaan beliau tersimpan
lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah beliau di masyarakat sudah tidak
diragukan lagi. Gaya bicara beliau yang tegas dan lugas menjadi salah
satu ciri khas beliau.
Kyai Marzuki lahir di kota Blitar, 44
tahun yang lalu (2015). Sungguh beruntung Kyai Marzuki karena dilahirkan
dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ya,
abahnya adalah seorang kyai. Alhasil, sejak kecil Kyai Marzuki
dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua beliau dengan disiplin ilmu
yang tinggi. Di bawah pengawasan orang tua beliau inilah putra dari Kyai
Mustamar dan Nyai Siti Jainab ini mulai belajar Al-Qur’an dan
dasar-dasar ilmu agama. Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi,
ternyata beliau waktu kecil sudah dididik tentang kemandirian agar
memiliki etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam
petelur milik Bu Lik Umi Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam
petelur inilah, beliau mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat
islam, dan bagaimana menjadi pemimpin.
Pada tahun 2010 ada satu
karya dari tulisan beliau yang monumental yang kini sudah puluhan kali
cetak ulang dan disampaikan di hampir ke seluruh penjuru nusantara,
yaitu Al-Muqtathafat li ahl al-Bidayat. Buku ini berisi sanggahan kepada
beberapa kelompok terutama salafi wahabi yang suka membid’ahkan amaliah
kaum Nahdliyyin, dikutip dari dalil-dalil Al-Quran, As-Sunnah dan
kaidah Ushul Fiqh. Buku ini masih diperuntukkan untuk kalangan terbatas
karena masih berbahasa Arab, yakni para pecinta ilmu, kalangan santri
dan pengurus NU. Harapan beliau buku tersebut bisa disampaikan kepada
orang lain, manakala sudah dibacakan dan diijazahkan oleh pengarangnya
langsung.
Rajin Ngaji Sejak Kecil
Kyai Marzuki lahir di kota Blitar, 43 tahun yang lalu. Sungguh beruntung
Kyai Marzuki karena dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah
sekaligus mengerti agama. Ya, abahnya adalah seorang kyai. Alhasil,
sejak kecil Kyai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua
beliau dengan disiplin ilmu yang tinggi. Di bawah pengawasan orang tua
beliau inilah putra dari Kyai Mustamar dan Nyai Siti Jainab ini mulai
belajar al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.
Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi, ternyata beliau waktu kecil
sudah dididik tentang kemandirian agar memiliki etos kerja yang tinggi
dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi
Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam petelur inilah, beliau
mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat islam, dan bagaimana
menjadi pemimpin.
Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah sampai sebelum belajar di
Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar ilmu
nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih kepada Kyai Ridwan dan Kyai-Kyai
lain di Blitar. Sejak SMP, beliau diminta mengajar Al-Qur’an dan
kitab-kitab kecil lainnya kepada anak-anak dan tetangga beliau. Pada
usia yang masih belia tersebut, beliau sudah mengkhatamkan dan faham
kitab Mutammimah pada saat beliau kelas 3 SMP.
Selepas dari SMP Hasanuddin, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah
Negeri Tlogo Blitar. Kyai Marzuki muda merupakan pemuda yang beruntung
sebab di usia beliau yang masih belia itu, beliau sudah mendalami ilmu
agama ke beberapa orang kyai di Blitar. Di antaranya, beliau mendalami
ilmu balaghoh dan ilmu mantek kepada Kyai Hamzah. Mendalami ilmu fikih
kepada Kyai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kyai Hasbullah
Ridwan.
Ketika beliau duduk di bangku Aliyah, beliau sudah khatam kitab Hadits
Muslim dan kitab-kitab kecil lainnnya. Sebelum beliau belajar di Malang,
selama di Blitar yang mengajar beliau adalah Orangtua beliau, Kyai
Hasbullah Ridwan yang masih eyang beliau, Kyai Hamzah dan Kyai Mujib
adalah guru beliau di MAN Tlogo.
Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, kyai kelahiran 22 September 1966
ini melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN (sekarang UIN
Maulana Malik Ibrahim) Malang, yang waktu itu masih merupakan cabang
IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah beliau
dapat, Kyai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang ini nyantri
kepada Kyai Masduki Mahfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono.
Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kyai Marzuki yang di atas rata-rata
santrinya yang lain, akhirnya Kyai Masduki memberi amanah kepada Kyai
Marzuki untuk membantu mengajar di pesantrennya, meskipun saat itu Kyai
Marzuki masih berusia 19 tahun. "Saat itu saya diminta untuk mengajar
kitab Fathul Qorib bab buyuu’ (jual-beli),” Kenang kyai yang juga Dosen
Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.
Selain itu, Kyai Marzuki juga beruntung, karena beliau seringkali
diminta untuk mendampingi dakwah Kyai Masduki saat mengisi pengajian
maupun dalam rapat-rapat organisasi kemasyarakatan. Dari sinilah Kyai
marzuki mulai mengetahui betapa beratnya tugas seoarang ulama dalam
mengayomi ummat. Dari gurunya yang juga Rois Syuriah NU Wilayah Jawa
Timur itu, Kyai Marzuki belajar akan keistikomahan menjadi seorang
guru. Kyai Masduki Mahfud itu meskipun pulang malam hari dari mengisi
pengajian, beliau selalu membangunkan para santrinya untuk mengaji,”
ungkap Kyai Marzuki.
Salah satu kelebihan beliau, saat masih duduk di bangku kuliah, Kyai
Marzuki sudah biasa memberikan kursus nahwu kepada mahasiswa yuniornya.
Namun, ternyata, banyak juga mahasiswa yang tidak hanya belajar nahwu,
namun juga mengaji kitab kepadanya. Dengan begini, keilmuan beliau
semakin terasah. Kemudian pada tahun 1987 Kyai berputra tujuh ini
mendapatkan kesempatan belajar di LIPIA Jakarta. Setelah menempuh dua
tahun masa studinya di sana, Kyai Marzuki kembali ke Malang untuk
membantu mengajar di pesantren Nurul Huda, Mergosono dan melanjutkan
kuliah S-1.
Membangun Rumah Tangga dan Pesantren
Pada tahun 1994, Kyai Marzuki memulai hidup baru. Beliau mempersunting
salah seorang santriwati Pondok Nurul Huda yang bernama Saidah. Sang
istri merupakan putri Kyai Ahmad Nur yang berasal dari Lamongan. Kyai
Marzuki sangat bersyukur sekali sebab gadis yang menjadi pendamping
hidup beliau adalah seorang hafidzoh (hafal Al-qur’an).
Selang satu bulan setelah menikah, Kyai Marzuki bersama istri mencoba
mengadu nasib dan hidup mandiri. Saat itu Kyai Marzuki memilih daerah
Gasek, Kecamatan Sukun sebagai tempat jujugan beliau. Pada mulanya,
beliau mencari rumah kontrakan yang dekat dengan masjid. Dan akhirnya,
beliau ngontrak di rumah salah seorang warga yang bernama pak Har.
Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, Kyai Marzuki akhirnya
menempati tempat yang baru. Pada saat beliau boyongan, tak lupa
santri-santri Pondok Nurul Huda ikut mengantarkan Kyai Marzuki boyongan
ke tempat barunya dan membantu usung-usung barang-barang dan
kitab-kitab guru mereka.
Tanpa diduga sebelumnya, pada hari pertama beliau menempati rumah itu,
ternyata sudah banyak santri yang datang mengaji kepada beliau. Di rumah
yang sederhana itulah Kyai Marzuki mengajar para santri beliau. Mereka
yang waktu itu belajar merupakan cikal bakal santri dan pesantren
beliau yang kini menjadi benteng utama umat di wilayah Gasek. Karena
santrinya semakin bertambah banyak maka rumah beliau tidak memadai
sebagai tempat belajar mereka. Namun, alhamdulillah, Allah SWT
memberikan jalan. Waktu itu di daerah Gasek sudah ada Yayasan
Sabilurrosyad yang sudah memiliki lahan luas. Namun, setelah beberapa
tahun didirikan Yayasan ini belum bisa berkiprah secara optimal.
Akhirnya Kyai Marzuki bekerjasama dengan Yayasan Sabilurrosyad
mendirikkan sebuah pesantren dengan Nama Sabilurrosyad.
Selain sibuk membimbing para santri, kyai yang pernah menjabat sebagai
Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan
dengan urusan ummat. Tiada hari tanpa memberikan pengajian atau
mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke majid,
blusukan keliling kampung dan lain sebagainya. Saat ini, Kyai Marzuki
juga aktif di berbagai organisasi kegamaan di antara sebagai Ketua
Tanfidiyah PCNU Kota Malang dan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang.
Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai contoh beliau
menyusun sebuah kitab, tentang dasar-dasar atau dalil-dali amaliyah yang
dilakukan oleh warga nahdhiyyin. Melalui kitab ini, Kyai Marzuki ingin
membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus
menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak setuju dengan sebagian
amaliayh warga Nahdhiyyin. Saking hebat dan lugasnya beliau menerangkan
itu semua, sampai-sampai Kyai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi
julukan "Hujjatu NU". "Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul
Islam, maka Kyai Marzuki ini Hujjatu NU" Demikian pernyataan Kyai
Baidhowi dalam beberapa kesempatan.
Posting Komentar