RONAS - TAK TERASA, 28 tahun sudah KH. M. Arief
Hasan meninggalkan pesantren Roudlotun Nasyiin. Sebagaimana tahun-tahun yang
sudah berjalan, pada hari minggu (03/01), Pondok Pesantren Roudlotun Nasyiin yang
berlokasi di utara sungai brantas, tepatnya Desa Beratkulon Kec. Kemlagi Kab
Mojokerto kembali menggelar acara rutin tahunan berupa peringatan Haul KH. M.
Arief Hasan ke – 28, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Ribuan tamu undangan tampak memadati lokasi
acara yang difokuskan di area makam KH. M. Arief Hasan. Tamu undangan yang
berasal dari alumni pesantren, wali santri, tokoh dan pemuka masyarakat, baik
dari dalam maupun luar mojokerto itu berbondong - bondong menghadiri acara
tersebut. Tak pelak, panitia yang sudah menyiapkan acara sedemikian rupa harus
kewalahan akibat undangan yang ternyata di luar perkiraan. Kursi yang sudah
dipersiapkan penuh sesak, para undangan banyak yang tidak kebagian tempat
duduk, sehingga harus mengambil tempat darurat di beberapa titik lokasi acara.
Hadir dalam acara tersebut beberapa pemuka
agama, tokoh masyarakat, dan kiai pondok pesantren di wilayah Kabupaten
Mojokerto, diantaranya adalah KH. In'am Pengasuh Ponpes Darul Falah Mojokerto,
KH. Imam Muslim, Pengasuh Ponpes Tahfidzul Qur'an Beratkulon, serta beberapa
kiai yang lain.
Dalam sambutannya, KH. Marzuki Mustamar
mengemukakan bahwa santri adalah aset bangsa yang memiliki potensi meneruskan
perjuangan para ulama. Itulah sebabnya, santri harus bangga sekaligus sadar
dengan posisinya sehingga harus sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu di
pesantren. Terbukti di masyarakat, bahwa santri tidak hanya memegang peranan
dalam hal tertentu, tapi juga bisa berkecimpung di wilayah apa saja.
Pada kesempatan lain, KH. Mas`ud Yunus yang
menjadi pembicara kedua menambahkan, bahwa pendidikan haruslah diutamakan. Beliau
mencontohkan sesuai dengan posisinya sebagai walikota Mojokerto, bahwa di Kota
Mojokerto program - program yang dikedepankan adalah mengutamakan pendidikan
dengan memberikan fasilitas - fasilitas yang dibutuhkan oleh pelajar,
menggratiskan biaya sekolah, angkutan umum, dan infrastruktur lainnya. Harapannya,
pendidikan 12 tahun bisa betul-betul dirasakan oleh masyarakat mojokerto pada
umumnya.
Dalam serangkaian acara, ditampilkan juga
juara lomba dalam rangka haflah akhirussanah yang telah dilaksanakan sebelumnya, diantaranya adalah penampilan juara pidato bahasa inggris, pidato bahasa arab, pidato
bahasa indonesia, MSQ (Musabaqah Syarhil Qur'an) dan Sholawat Al Banjari. Para
undangan tampak khusyu’ mengikuti acara tersebut hingga paripurna setelah
dhuhur. (Reporter: Taufik Akbar)







+ comments + 1 comments
Reportase yg mantap..
Posting Komentar