Dilemparkannya pandang menuju langit lesak pukat
mercusuar kian remang, menampar gigir laut yang merjan cahaya
seorang wanita tergugu di bibir perahu, berkilat-kilat
cahaya menampar gerai rambutnya yang kian salju
dibacanya jejak gelombang di gerai buih kepala itu
hujan ritmis bersijatuh dari liang mata air yang ditaja pada satu wangsa
senja semakin mengabu serupa kepak remetuk laut dibubung langit
sedang samudera adalah air mata, dengan asin kenangan melumurinya
sementara helai demi helai rambut gugur dari tempuhan musim
seperti tualang biduk menuju seberang benua
helai pertama tanggal dari ubin kepala, meranggas
menuju pintu beliung yang mengoyak pilu bebatu
helai kedua jatuh menuju jendela
hingga helai demi helai berikutnya dikibaskan pasir
menyihir batu sebagai piatu yang paling abadi.
oleh: Elvandarisa Astandi







Posting Komentar