Selamat Datang di Portal Pondok Pesantren Roudlotun Nasyiin

Yang Tak Kunjung Kembali


Dilemparkannya pandang  menuju langit lesak pukat

mercusuar kian remang, menampar gigir laut yang merjan cahaya

seorang wanita tergugu di bibir perahu, berkilat-kilat

cahaya menampar gerai rambutnya yang kian salju

dibacanya jejak gelombang di gerai buih kepala itu

hujan ritmis bersijatuh dari liang mata air yang ditaja pada satu wangsa

senja semakin mengabu serupa kepak remetuk laut dibubung langit

sedang samudera adalah air mata, dengan asin kenangan melumurinya

sementara helai demi helai rambut gugur dari tempuhan musim

seperti tualang biduk menuju seberang benua

helai pertama tanggal dari ubin kepala, meranggas

menuju pintu beliung yang mengoyak pilu bebatu

helai kedua jatuh menuju jendela

hingga helai demi helai berikutnya dikibaskan pasir

menyihir batu sebagai piatu yang paling abadi.


oleh: Elvandarisa Astandi
Share this post :

Posting Komentar

SYAIKHUNA

 
Copyright © 2016. Roudlotun Nasyiin - All Rights Reserved
Supported by Mayang Seto Team