Selamat Datang di Portal Pondok Pesantren Roudlotun Nasyiin

Secercah Sinar Dari Lirboyo

Oleh : Em. Syuhada' *)
 
MEREDUPNYA tradisi menulis di kalangan insan pesantren (dan terutama kiai) pada kurun waktu terakhir sempat menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Pasalnya, kiai sebagai sosok yang tak bisa dilepaskan dari pesantren adalah pemegang obor dalam perjalanan panjang sejarah kemanusiaan. Sebagai pembawa lentera, mestinya kiai mampu menggunakan pelbagai kemungkinan metode supaya dakwah yang dijalankannya berjalan efektif. Kalau dakwah yang selama ini dijalankan adalah melintasi jalur oral, kelemahan yang mestinya harus dicermati adalah tak adanya warisan keilmuan yang bisa disumbangkan pada generasi sesudahnya.

Pada titik yang sama, peran dakwah yang semestinya bisa terus didengungkan akan mandeg dengan sendirinya ketika sang kiai harus berpulang menghadap Ilahi. Padahal sejarah telah membuktikan, betapa ulama zaman dulu bisa dikenal luas oleh khalayak, disamping keteguhan mental spiritualnya, tak kalah pentingnya adalah keuletan berkontemplasi dengan rerimbunan jagad ide, kemudian menorehkan percik-percik pemikiran itu melalui goresan pena sehingga mampu melahirkan karya-karya tulis yang jumlahnya sungguh tidak terbilang. Karya-karya itulah yang hingga saat ini dijadikan wacana utama bagi insan pesantren dalam menelaah persoalan keumatan.

Pada kurun waktu yang lampau, Jawa Pos melalui rubrik ini pernah memunculkan tulisan secara beruntun bernada kritis-analitis dalam menyoroti persoalan tersebut. Tengok misalnya tulisan Fahruddin Nasrulloh yang bertajuk “Kiai dan Kitab Kuning” (JP,17/12/2006), penulis muda dari Jombang itu memaparkan kiai masa lampau yang tak hanya tekun berkontemplasi, namun intens menulis sehingga melahirkan karya-karya tulis berkualitas. Tulisan yang kemudian dicetak dalam kertas khas kekuning-kuningan itulah yang kemudian terkenal dengan sebutan kitab kuning. Kitab yang tak asing lagi di dunia pesantren. Lantas, Kuswaidi Syafi’ie dengan “Kiai tanpa Buku” (JP, 24/12/2006), M. Faizi “Tak Ada Buku, Kitab pun Jadi” (JP, 7/1/2007), dan terakhir tulisan Muhamad Ali Hisyam “Kami Rindu Padamu, Kiai Penulis” (JP, 14/01/2007) yang merindukan kiai masa kini bersedia menekuni ranah kepenulisan, tak hanya asyik masyuk dengan euforia reformasi dengan berbondong-bondong hengkang dari wilayah aslinya di jalur kultural menuju dunia politik praktis yang sarat dengan kepentingan.

Kerinduan kepada kiai penulis yang tak hanya fasih dalam olah vokal, tapi juga terampil dalam jagad kepenulisan membawa mereka pada satu kesimpulan, bahwa dalam kondisi bagaimanapun, tak semestinya jika kiai dan juga insan pesantren terlena dengan kemapanan identitas. Bahwa sampai kapanpun, semangat menulis dikalangan insan pesantren harus terus dipancangkan. Meminjam bahasanya Pramodya Ananta Toer, manusia boleh pandai setinggi langit. Namun ketika ia tidak menulis, ia akan hilang ditelan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Namun melemahnya denyut kepenulisan di pesantren sedikit tercerahkan dengan semburat sinar yang muncul dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Adalah Agus Shohib Khaironi El Jawy. Pria kelahiran Ngawi Jawa Timur yang merupakan alumni Pesantren Lirboyo itu mampu menggebrak kebekuan yang selama ini menghantui pesantren. Di usianya yang relatif muda (kelahiran 1972), ia menulis sebuah kitab panduan tata Bahasa Arab dengan metode pendekatan baru, yakni menggunakan skema dan diagram yang sangat memudahkan pembaca yang ingin mendalami ilmu alat: Nahwu Sorof. Hebatnya lagi, kitab yang diberi label “Audhlohul Manaahij” itu meskipun belum begitu dikenal didalam negeri, namun telah ‘diakui’ kehebatannya di dunia internasional. Di Timur Tengah dan Amerika misalnya, kitab tersebut laku keras di pasaran. Bahkan di Iran, karya jebolan pesantren yang diterbitkan sejak Februari 2007 lalu itu mendapatkan tanggapan positif dari banyak kalangan sehingga membawanya memperoleh penghargaan bintang lima (book rating) sebagai kitab terlaris.

Pujian pun datang bermunculan. Dr. Basyiiri Abdul Mu’thy dari Al Azhar Cairo Mesir turut memberikan komentar terkait peluncuran kitab tersebut. Menurutnya, meskipun ditulis oleh seorang yang bukan Arab, “Audhlohul Manaahij” merupakan kitab panduan belajar Bahasa Arab yang lain daripada yang lain. Dengan menggunakan metode pendekatan berbeda, kitab tersebut sangat mudah dipahami oleh pembaca.

Komentar serupa juga dilontarkan Khoirul Huda Basyir. Praktisi dan pecinta Bahasa Arab yang menjabat sekretaris PP LDNU itu tak menyangkal kelebihan kitab tersebut. Ia menuturkan, kitab yang ditulis alumni Lirboyo itu adalah kitab panduan Bahasa Arab yang bagus dan sangat mudah dipahami sehingga sangat cocok jika dipergunakan di pesantren-pesantren NU.

Sungguh menarik. Ditengah melemahnya tradisi menulis di kalangan kiai dan insan pesantren pada umumnya, Shohib Khaironi El Jawy mampu melakukan loncatan serius dengan membuktikan dirinya mampu menelorkan karya tulis yang tak hanya bermakna, namun membelalakkan mata para cerdik cendikia. Kenyataan itu setidaknya membuka mata kita semua (terutama insan pesantren dan tentu saja kiai sebagai motor penggeraknya), bahwa aktifitas menulis tak semestinya ditinggalkan. Meminjam bahasanya KH. Hasyim Muzadi, pesantren dengan kekayaan intelektualnya yang melimpah harus mampu membuat parit-parit agar denyut keilmuan khas pesantren tidak ngecembeng (menggenang) dan bisa dinikmati secara ma’kul oleh orang-orang diluar pesantren. Boleh jadi parit yang dimaksud oleh ketua PBNU itu tak hanya sebatas olah vokal yang cenderung menguap begitu saja di ruang terbuka. Namun aktifitas menulis juga terbukti sangat efektif mampu mengalirkan keilmuan pesantren jika dikemas dengan metode yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya.

Walhasil, kita hanya mampu berharap. Semoga secercah sinar yang dipancarkan alumni Lirboyo itu mampu merangsang libido menulis para kiai, agar peran kiai sebagai agen pencerahan memiliki kadar efektifitas yang maksimal. Namun, kalau kenyataan itu sama sekali tak mampu merangsang kiai agar bersedia menulis, dan kiai tetap enjoy menikmati tradisi kemapanan yang rigid, apa mau dikata? Harapan terakhir adalah pada santri. Sebab, santri adalah penghuni garda depan sejarah peradaban. Di pundak santrilah, kejayaan masa depan islam bisa disandarkan. Wa ba'du, menulislah wahai para santri! Namamu akan tetap ada meskipun engkau telah tiada.(*)

*)Em. Syuhada', Alumni PP. Roudlotun Nasyiin Mojokerto
Tulisan ini dimuat Jawa Pos, Minggu, 20 April 2008 
sumber : www.pejalansunyi.id
Share this post :

+ comments + 1 comments

12 November 2015 pukul 05.51

Wah sip ini, secercah harapan dr ronas. Alumni ronas harus jos.

Posting Komentar

SYAIKHUNA

 
Copyright © 2016. Roudlotun Nasyiin - All Rights Reserved
Supported by Mayang Seto Team